RSS Feed

Pemanfaatan Limbah Kelapa Sawit

Posted by Flora Sawita Labels: ,


PEMANFAATAN LIMBAH KELAPA SAWIT MELALUI PENGOLAHAN BIOLOGIS DAN KIMIAWI DALAM UPAYA MENINGKATKAN KECERNAANYA SECARA IN VITRO


Oleh: Liman, Ir., M.Si

Lembaga Penelitian

Dibuat: 2007-11-14 , dengan 1 file(s).


Keywords: Limbah, Kelapa sawit, pengolahan biologis, kimiawi, in vitro

Subject: LIMBAH

Call Number: 628.54 Lim p C.1


http://digilib.unila.ac.id/go.php?id=laptunilapp-gdl-res-2007-limanirmsi-729

ABSTRAK
Pengembangan peternakan khususnya ruminansia pada kawasan perkebunan kelapa sawit dapat memanfaatkan sumber pakan berupa limbah

kelapa sawit antara lain minyak sawit kasar, bungkil inti sawit, serat sabut buah sawit, dan lumpur sawit. Pemakaian limbah perkebunan memerlukan sentuhan teknologi agar pemanfaatannya optimum bagi terbak.
Penelitian ini bertujuan untuk mcningkatkan daya guna limbah kelapa sawit melalui proses kimiawi dan biologis. Limbah yang digunakan pada penelitian ini adalah sabut sawit dan lumpur sawit.
Penelitian ini diawali pengolahan kimia yang dilakukan dengan cara amoniasi. Proses amoniasi dilakukan pada sabut sawit dengan cara menambahkan urea 2, 4, clan 6 dan 8% dari bahan kering ransum. Perlakuan yang dicobakan adalah R0: sabut tanpa amoniasi , RI : amoniasi 2% urea, R2 : amoniasi 4% urea, dan R3 : amoniasi 6% dan R4 =8% urea. Masing-masing perlakuan diulang 4 kali. Paramater yang diukur adalah kecernaan bahan kering dan bahan organik secara

in vitro dengan metode Tilley and Terry. Hasil penelitian tahap awal yang terbaik akan digunakan untuk penelitian lanjutan penentuan level yang terbaik untuk digunakan dalam ransum. Penelitian in vitro dilanjutkan untuk mengetahui level penggunaan dalam ransum, susunan perlakuannya sebagai berikut : RI= Ransum basal + 5% Sabut Sawit Teramoniasi dari BK ransum, R2= Ransom basal + 100 Sabut Sawit Teramoniasi dari BK ransum, R3= Ransum basal + 15 % Sabut Sawit Teramoniasi dari BK ransum, R4= Ransum basal + 20% Sabut Sawit Teramoniasi dari BK ransum, R5= Ransum basal + 25% Sabut Sawit Teramoniasi dari BK ransum.
Tahap kedua dari penelitian ini adalah dengan melakukan fermentasi terhadap lumpur sawit dengan menggunakan kapang dengan susunan perlakuan sebagai berikut R0: lumpur tanpa fermentasi R1 : Aspergillus oyizae, R2:

Aspergillus niger, R3. Rhizopus oryzae R=l =Sacharomyccs cerevicae
. Masing-masing

perlakuan diulang 5 kali Paramater yang diukur adalah kecernaan bahan kering dan bahan kering organik secara in vitro dengan metode Tilley and Terry. Hasil percobaan didapat kapang atau yeast yang terbaik kemudian dilakukan penelitian penentuan tingkat penggunaan lumpur sawit terfermentasi yang terbaik dalam ransum. Percobaan vitro untuk menentukan tingkat penggunaan Lumpur Sawit sebagai protein dilakukan dengan 5 perlakuan. Menggunakan rancangan dasar rancangan acak lengkap 5 perlakuan dengan 6 ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah: R1=Ransum basal + 5% Lumpur Sawit terfermentasi dari BK ransum , R2= Ransum

basal + 10% Lumpur Sawit terfermentasi dari BK ransum, R3 = Ransum basal + 15% Lumpur Sawit terfermentasi dari BK ransum, R4= Ransum basal + 20% Lumpur Sawit terfermentasi dari BK ransum, R5= Ransum basal + 25% Lumpur Sawit terfermentasi dari BK ransum.
Tahap ketiga menggabungkan basil in vitro tahap pertama dan kedua untuk digunakan dalam ransum secara bersamaan, perlakuan yang dicobakan adalah: R0: ransum basal , R1: basal + sabut teamoniasi*, R2: basal + lumpur terfermentasi*, R3: basal + (sabut sawit terfermentasi + lumpur terfermentasi*) (*level ditentukan hasil penelitian tahap sebelumnya). Data yang didapat

dianalisis ragam dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil dan polinomial orthogonal.

Berdasarkan analisis ragam perlakuan sabut sawit tramoniasi menunjukkan pengaruh nyata terhadap kecernaan bahan leering, kecernaan bahan organik , dan NH3. Berdasarkan uji lanjut polinomial ortogonal perlakuan

berpengaruh nyata terhadap KCBK dan KCBO secara kuadratik dengan persamaan Y= 28,371 + 2,029x - 0,05x2dan Y= 26,322 + 2.451x- 0,064x 2.

Berdasarkan analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan jenis kapang dan yeast tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap kecernaan bahan kering. Tetapi menurut uji lanjut BNT perlakuan R4 berpengaruh nyata (P<> 0,05) terhadap KCBK KCBO, dan VFA, tetapi berpengaruh nyata terhadap konsentrasi amonia. Hasil uji lanjut polinomial orthogonal menunjukkan perlakuan mempunyai pola linear dengan persamaan

Y=14,812 -0,3689x.

Berdasarkan uji kontras orthogonal penambahan 20 % sabut sawit dan

10% lumpur sawit dalam ransum berpengaruh nyata terhadap kecernaan bahan kering tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kecernaan bahan organik, produksi VFA dan konsentrasi cairan rumen; penambahan 15% sabut sawit dan 15 %

lumpur sawit tidak berpengaruh nyata terhadap kccernaaan bahan kering kecernaan bahan organik, produksi VFA, dan konsentrasi amonia; penambahan

10% sabut sawit dan 20% lumpur sawit dalam rasnum berpengaruh nyata terhadap produksi VFA konsentrasi amonia tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik ransum.

Translation:
ABTRACT
To develope animal production, specially in ruminant, palm areal caould be done by utilization of palm oil by product as feed sources. They were consisted palm press fiber, palm oil sludge, and palm kernel cake.

Ulilization of palm oil by product needed technology to optimum utilized.

The objective of this research was to improve utilizing palm oil by product throught chemical and biology processing. Palm oil by product were used in the research consisted palm sludge and palm press fiber.
The research was began with chemical processing throught ammoniation. Ammoniation proceed content 2, 4, 8, 6, and S%, of urea. Each treatments were replicated 4 times. Parameters consisted dry matter and organic matter digestibility in vitro method. The research was continued to determine optimum level in rations The treatments were arranged: R1 = basal rations + 5 % palm oil press fiber ; R2 =basal rations + 10 % palm oil press fiber ; R3= basal rations + 15 % palm oil press fiber; R4 = basal rations + 20 % palm oil press fiber ; R5= basal rations + 25 % palm oil press fiber.
The second stage of research was fermentation prossesing of palm oil sludge. This procesed used several fungi. They were consisnted R0: palm oil without fermentation R1 : Aspergillus oryzaer, R2: Aspergillus niger, R3 : Rhizopus oryzae ,R4: Saclzaronzyces cerevicae. The treatment were replicated

5 times. Parameters were consisted dry matter and organic matter digestibility. The research was continued to determine optimum level in

rations. The treatments were arranged : RI = basal rations + 5% palm sludge fermented ; R2 = basal rations + 10% palm sludge fermented ; R3 =

basal rations + 15% palm sludge fermented ; R4 = basal rations + 20% palm sludge fermented ; R5= basal rations +25% palm sludge fermented.


In thirth stage, the research used both palm oil slugged and palm oil press fiber . The treatments were arranged :

Based on analyzed of varians, the ammoniated treatment had

significant effect on dry matter and organic matter digestibility and NH3.

Based on polynomial orthogonal test, the treatments had significant effect on dry matter and organic matter digestibility . They had kuadratic curve, the equations was Y= 28,371 + 2,029x - 0,05x2 dan Y= 26,322 + 2,451x- 0,064x2

.Based on analyzed of varians indicated that fungi treatments had no

significant effect on dry digestibility. But , base on least significant different, R4 had significant effect (P<0.05)>0.05) on dry matter and organic

matter digestibility and VFA, but, had significant effect (P<0.05) y="14,812">
Hubungi kami:

DL Name:Lampung University Library
PublisherID:LAPTUNILAPP
Organization:Lampung University
Contact:Perpustakaan Universitas Lampung
Address:Jl.Prof. Dr. Soemantri Brojonegoro No. 1
City:Bandar Lampung
Region:Lampung
Country:Indonesia
Phone:62-721-706352
Fax:62-721-706351
Admin Email:dedi[at]unila.ac.id
CKO Email:library[at]unila.ac.id

0 comments:

Poskan Komentar

Label

2011 News Africa AGRIBISNIS Agriculture Business Agriculture Land APINDO Argentina Australia Bangladesh benih bermutu benih kakao benih kelapa benih palsu benih sawit benih sawit unggul Berita Berita Detikcom Berita Info Jambi Berita Kompas Berita Padang Ekspres Berita Riau Pos Berita riau terkini Berita Riau Today Berita Tempo bibit sawit unggul Biodiesel biofuel biogas budidaya sawit Bursa Malaysia Cattle and Livestock China Cocoa Company Profile Corn corporation Cotton CPO Tender Summary Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel Oil (PKO) Dairy Dairy Products Edible Oil Euorope European Union (EU) FDA and USDA Fertilizer Flood Food Inflation Food Security Fruit Futures Futures Cocoa and Coffee Futures Edible Oil Futures Soybeans Futures Wheat Grain HUKUM India Indonesia Info Sawit Investasi Invitation Jarak pagar Kakao Kapas Karet Kebun Sawit BUMN Kebun Sawit Swasta Kelapa sawit Kopi Law Lowongan Kerja Malaysia Meat MPOB News Nilam Oil Palm Oil Palm - Elaeis guineensis Pakistan palm oil Palm Oil News Panduan Pabrik Kelapa Sawit pembelian benih sawit Penawaran menarik PENGUPAHAN perburuhan PERDA pertanian Pesticide and Herbicide Poultry REGULASI Rice RSPO SAWIT Serba-serbi South America soybean Tebu Technical Comment (CBOT Soyoil) Technical Comment (DJI) Technical Comment (FCPO) Technical Comment (FKLI) Technical Comment (KLSE) Technical Comment (NYMEX Crude) Technical Comment (SSE) Technical Comment (USD/MYR) Teknik Kimia Thailand Trader's Event Trader's highlight Ukraine umum USA Usaha benih varietas unggul Vietnam Wheat